Sabtu, 10 November 2012

(NO.3) 10 TULISAN BAHASA INDONESIA 1



Kemacetan di Jakarta Akankah Abadi?

Jakarta sudah identik dengan kemacetan. Siapa pun yang menjadi gubernur, nampaknya problematika kemacetan akan terus jadi pekerjaan rumah yang tak kunjung terselesaikan. Biang keladinya mudah dicari, yaitu jumlah kendaraan yang terus meningkat tak diimbangi dengan penambahan ruas jalan raya.
Bayangkan, jumlah kendaraan meningkat 8 persen per tahun, sedangkan penambahan ruas jalan hanya 0,01 persen per tahun. Setiap hari terdaftar 1.284 kendaraan baru yang terdiri dari 216 mobil dan 1.068 sepeda motor. Jadi, tak heran bila jalanan penuh sesak dengan jutaan pengendara motor dan mobil setiap hari.
Buruknya sistem transportasi massal juga menyebabkan sebagian orang beralih menggunakan kendaraan pribadi ketimbang angkutan umum. Lihat saja, terdapat 7,25 juta atau 98,8 persen pengguna kendaraan pribadi, dan 89 ribu atau 1,2 persen pengguna angkutan umum termasuk kereta rel listrik dan busway.
Pilihan yang masuk akal, siapa yang mau jika harus antre berjam-jam menunggu bus TransJakarta. Atau berdesak-desakan naik KRL dengan risiko kecopetan, pelecehan seksual, dan ketidaknyamanan lain seperti panas suhu di dalam kereta. Belum lagi serbuan pekerja komuter sebanyak 1,5 juta orang alias pekerja yang datang setiap harinya dari sekitar Jakarta.
Jika tak segera dikendalikan, diprediksi tahun 2014 Jakarta akan macet total. Pihak Pemprov DKI Jakarta, khususnya Dinas Perhubungan DKI Jakarta, bukannya tak punya solusi, namun semuanya belum terbukti bisa menghilangkan kemacetan.(ADO)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar