Sabtu, 10 November 2012

( No.9 ) 10 TULISAN BAHASA INDONESIA 1



Perumahan di Pundak Generasi Muda

Rumah merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia yang bersinggungan dengan arsitektur. Sehingga ilmu arsitektur turut bertanggung jawab terhadap masyarakat luas dalam menyediakan hunian yang sehat dan nyaman. Namun, jika kita melihat realita perumahan Indonesia maka data yang ada mampu memberikan beberapa kesimpulan.
Berdasarkan data tersebut, Indonesia kekurangan rumah sebesar 5.8 juta unit, dengan pertumbuhan kebutuhan akan rumah baru mencapai 800.000/tahun. Hal ini disebabkan karena  pertumbuhan penduduk. Sementara bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang menempati kawasan kumuh seluas 54.000 hektar di seluruh Indonesia, terdapat 13 juta unit rumah tidak layak huni. Diperkirakan hingga tahun 2020 rata–rata kebutuhan rumah pertahun mencapai 1,2 juta unit.
Terlihat tingginya angka permintaan, dan itu menjadi tanggung jawab kita bersama. Kenapa hal ini bisa terjadi? Selain dikarenakan karena tingkat pertumbuhan, bisa juga disebabkan oleh dua hal: pertama, rendahnya tingkat pemenuhan kebutuhan perumahan yang layak dan terjangkau; Kedua, Menurunnya kualitas lingkungan permukiman. Sesungguhnya pemerintah telah mencanangkan Rencana Strategis Pembangunan Perumahan periode 2004-2009, akan tetapi mungkin target yang dicapai masih jauh dari harapan yang diinginkan oleh masyarakat. Sehingga tingkat kepuasan masyarakat terhadap pengadaan pemukiman masih rendah.
Jakarta sebagai ibukota Negara terkadang  menjadi panutan bagi kota – kota lain dalam memperbaiki diri. Sehingga Jakarta sepatutnya menjadi contoh yang baik bagi kota lain di Indonesia. Sebagai contoh, konsep jalur bus di Jakarta diadopsi oleh  Yogyakarta, Manado dan banyak kota lainnya dalam upaya memperbaiki sistem transportasi umum mereka.
Akan tetapi pada realitanya, tetap saja ada kekurangan yang dimiliki oleh Jakarta. Keberpihakan pada kalangan atas jelas tampak pada tumbuhnya apartemen – apartemen yang diperuntukan bagi kalangan tersebut.  Pembangunan hunian bagi kalangan atas per tahun mencapai 6000 unit, ini dianggap sudah lebih dari cukup. Sedangkan pembangunan hunian untuk kalangan menengah per tahun mencapai 12.000 unit yang pada realita pemenuhan kebutuhan unit hunian untuk golongan masyarakat ini bisa dibilang 0 %. Itu belum termasuk kebutuhan hunian bagi masyarakat bawah yang mencapai 181.000 unit yang 21.000 unitnya merupakan kawasan kumuh berat. Suatu ketimpangan terjadi apabila kontrol pemerintah kurang ditambah anggaran minim.
Ketimpangan ini juga dapat dilihat dari laju pertumbuhan penduduk di Jakarta. Pertumbuhan penduduk di Jakarta pada rentang 1990 – 2000 hanya 0,16 % pertahun,  pertumbuhan penduduk  Jakarta Selatan -0,67%(minus), Jakarta Timur 1,33%, Jakarta Pusat -2,01% (minus), Jakarta Barat 0,49%, dan Jakarta Utara 0,52%. Akan tetapi pertumbuhan penduduk di kota satelit Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi mencapai 4% pertahun, gejala pertumbuhan yang negatif ini bisa kita saksikan adanya perubahan fungsi perumahan yang terus berganti menjadi kawasan komersial. Ada keberpihakan Jakarta kepada kepentingan ekonomi dibandingkan pada pemenuhan kepada masyarakat berupa perumahan. Ini menyebabkan penduduk Jakarta berekspansi keluar jakarta, akan tetapi tetap berkomuter karena mereka bekerja di Jakarta..
Berbanding terbalik dengan pemenuhan kebutuhan perumahan di Jakarta, jusru Jakarta semakin dipenuhi oleh pusat perbelanjaaanya. Setidaknya ada 130 pusat perbelanjaan atau mall tersebar di seluruh penjutu.. Keberadaan mall di Jakarta riskan karena jarak yang relatif dekat antar mall dan kemungkinan akan ada yang bangkrut karena persaingan. Namun diperkirakan beberapa tahun ke depan 2000 mall regional yang ada di seluruh dunia akan tutup atau berubah fungsi. Memang kini seakan-akan ekonomi Jakarta nampak kokoh dan bergairah dengan keberadaan mall sebagai penguasa lahan, tapi bukannya tak mungkin beberapa tahun lagi mall ada mall yang tutup dan berubah fungsi. Jika hal itu terjadi, maka mall dapat dimanfaatkan sebagai perumahan bagi masyarakat di Jakarta dengan merevitalisasinya.
Jika memang kebutuhan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah demikian mendesak, ada banyak yang bisa kita pelajari dari masa lalu dan luar negeri tentang kepedulian terhadap pemenuhan perumahan bagi mereka. Beberapa contoh: sand bag house karya MMA architecs di CapeTown, Afrika Selatan. Rumah ini menggunakan karung pasir sebagai dinding bangunannya dengan budget sekitar $ 8600.  Lalu ada Space Block Hanoi Model, sebuah proyek rumah percobaan yang dikerjakan oleh Kazuhiro Kojima + Kojima Lab., Tokyo University of Science dan Magaribuchi Lab dari University of Tokyo: sebuah proyek revitalisasi perumahan kumuh. Dari dalam negeri,  ada Pemukiman Kali Cho-de di Yogyakarta oleh Romo Mangunwijaya.
Lalu apa yang bisa dilakukan kita sebagai generasi muda? Kita adalah penggerak perubahan di masa yang datang, sudah tentu memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan masalah ini sampai tuntas. Kita saat ini berada dalam proses perubahan dan memiliki kewajiban untuk memecahkan masalah dengan solusi tepat guna di masa depan. Sekarang mungkin kita hanya bisa mengikuti dan sedikit bereksistensi pada proses perubahan saat ini. Tapi 10-20 tahun lagi dengan modal ilmu, pengalaman, pelajaran dari masa lalu dan proses regenerasi yang terjadi, kita harus siap untuk mengambil keputusan terbaik demi perkembangan arsitektur, umumnya, dan masalah pemukiman di Indonesia, khususnya.
Memanh perubahan bisa terjadi kalau kita mengalami bencana, dengan bencana kita belajar untuk saling menjaga dan memikirkan satu sama lain. Tapi saya juga percaya, jika ada political will yang baik, maka kita bisa berubah: memikirkan orang lain, terutama kalangan bawah yang selalu menjadi “keset”.  Walaupun kemungkinan itu kecil tapi tetap ada. Paling tidak, saya percaya dan optimis? Bagaimana dengan Anda? Mungkin anda bisa mulai menyalurkan optimisme anda dengan mengikuti Sayembara Tanpa Hadiah.

Sumber : http://rujak.org/2009/09/perumahan-di-pundak-generasi-muda/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar