Jumat, 04 Januari 2013

Tugas 4 - Bahasa Indonesia


Nama              : Budi Hertanti
NPM                : 19112031
Kelas               : 4KA32
Matakuliah      : Bahasa Indonesia I, Part 4

Tugas
Berikanlah contoh dalam kalimat beberapa perhubungan makna seperti sinonim, hoponimi, homonimi, polisemi, dan antonimi !

Jawaban
1.    Sinonim adalah dua buah kata yang memiliki kemiripan makna.
      Contoh : Binatang = Fauna
      -  Binatang langka seperti komodo, burung cendrawasih, dll dilindungi oleh pemerintah.
      -  Di Indonesia terdapat berbagai jenis macam fauna yang unik.

2.    Hiponim adalah ialah semacam relasi antarkata yang berwujud atas bawah, atau dalam suatu makna terkandung sejumlah komponen yang lain, bisa dikatakan juga sebagai hubungan makna.
Contoh : Kata buah meliputi mangga, jambu, pepaya, dll.
 -  Tukang rujak itu sedang memotong buah, diantaranya mangga, jambu, kedondong, dll.

3.    Homonimi adalah adalah kata-kata yang sama bunyi dan bentuknya tetapi mengandung makna dan pengertian yang berbeda.
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya homonim adalah:
a.    kata-kata yang berhomonim itu berasal dari bahasa atau dialek yang berlainan.
b.    kata-kata yang berhomonim itu terjadi sebagaimana hasil proses morfologis
Contoh : kata tidur
-   Adikku terbangun dari tidurnya ketika mobil ayah melewati polisi tidur.

4.    Polisemi adalah relasi makna suatu kata yang memiliki makna lebih dari satu atau kata yang memiliki makna berbeda-beda tetapi masih dalam satu arti, dapat dikatakan pula Polisemi adalah satu kata yang memiliki banyak arti.
Contoh : kata “apel” 
-  Seluruh siswa mengikuti apel pagi di sekolah masing-masing. (apel disini maksdunya   upacara).
-    Ibu membeli apel di singapura. (apel disini maksudnya buah).

5.    Antonimi adalah nama lain untuk benda lain pula atau kebalikannya dapat dikatakan juga sebagai  perlawanan kata.
Contoh : senang dan sedih
-  Para suporter Manchaster United senang karena timnya menjadi juara liga champions, sedangkan suporter Liverpool sedih karena timnya gagal menjadi juara.

Tugas III - Bahasa Indonesia

Nomor
:


       April  2011
Sifat
:



Lampiran
:


Kepada
Hal
:
Undangan
Yth . 
Staf Pengajar Universitas Gunadarma      
di




       Tempat





Dengan Hormat,

        Dalam rangka meningkatkan kompetensi mutu lulusan dan daya saing para lulusan dalam kancah persaingan percarian lapangan kerja, dengan ini mengharapkan kehadiran seluruh staf pengajar Universitas Gunadarma dalam pertemuan yang diadakan pada:
hari           :    Kamis
tanggal     :    28 April 2011
waktu        :    09.00 WIB
tempat      :    Ruang Auditorium Universitas Gunadarma
                       Gedung IV Lantai 6 - Depok
acara        :   Seminar Nasional dengan tema “Uni kolaburasi antara Perguruan Tinggi dan Industri dalam meningkatkan daya saing lulusan”.
            Mengingat pentingnya acara di atas, diharapkan kehadiran Saudara tepat pada waktunya.
                                    Atas perhatian dan kehadirannya, saya ucapkan terima kasih.







                 REKTOR
UNIVERSITAS GUNADARMA,





Prof. Dr. E. Margianti, SE., MM
NIP. ..........................................




Tembusan:
1.    Pembantu Rektor 1
2.    Pembantu Rektor 2
3.    Pembantu Rektor 3
4.    Pembantu Rektor 4

Kamis, 03 Januari 2013

( No.13 ) 20 TULISAN BAHASA INDONESIA 1


Dewasa ini kebutuhan informasi masyarakat Indonesia mulai berkembang.Tidak hanya pada kebutuhan semu dan sesaat namun telah menjadi kebutuhan yang kontinyu dan rutin.Berbagai kebutuhan informasi baik mulai dari dunia hiburan, ekonomi-bisnis, politik, keilmuan, sampai hal yang sepele pun menjadi konsumsi khalayak.Informasi kini telah dinilai oleh masyarakat kita sebagai suatu kebutuhan, dari hanya sekedar untuk tahu hingga untuk kepentingan profesional, informasi kini mulai ditanggapi positif oleh masyarakat.Posisi informasi sebagai kebutuhan esensial dijadikan masyarakat kita untuk mencapai tujuan melalui manfaat yang diperolehnya. 
Dengan ketersediaan informasi, manusia dapat memperluas cakrawala pengetahuannya, memahami kedudukan serta peranan dalam masyarakat dan mengetahui apa saja peristiwa yang terjadi di sekitarnya.
Beragam peristiwa dan informasi yang diperoleh masyarakat tidak terlepas dari peranan suatu media massa dalam hubungannya dengan penyajian dan intepretasi fakta peristiwa. Melalui media massa masyarakat mendapatkan suatu bentuk penyajian informasi berupa berita.
Berita bukanlah suatu informasi yang selalu terkait dengan segala peristiwa sebab tidak semua peristiwa menjadi buah bibir yang diberitakan. Berita sendiri lebih menitikberatkan konstruksi suatu realitas yang proses intepretasinya menggunakan ragam bahasa yang telah terukur. Sehingga bahasa dapat dikatakan memegang peranan penting dalam membentuk opini publik.
Namun sayangnya terdapat permasalahan berkaitan dengan berita yang dilansir oleh media massa. Tak jarang pemberitaan masih kurang objektif dari realitas sebenarnya selain itu keterbatasan pengupasan data dan fakta yang disajikan dalam suatu berita menjadikannya friksi.Dalam artian fakta telah terkontaminasi oleh opini dan subyektivitas penulis berita atau bahkan fakta dimanipulasi oleh sebgaian pihak demi kehendak tertentu.
Hal ini kemudian mengakibatkan gelombang opini publik yang kuat terhadap suatu persoalan yang diberitakan. Entah itu penilaian positif sebagai hegemoni citra positif yang diposting media massa atau membentuk opini negatif publik akan suatu perkara. Citra positif yang tidak sesuai dengan realita mengakibatkan kebohongan publik sedangkan opini negatif yang terus menerus dilansir akan menyebabkan tersugestinya rasa dendam dan kebencian sehingga aroma permusuhan publik mengental akan suatu persoalan. Dengan demikian kunci permasalahan adalah penyajian berita yang mampu memberikan deskripsi permasalahan seobjektif mungkin sehingga tendensi opini publik ke arah yang negatif dapat terkontrol. 
Dalam tulisan ini nantinya akan dijelaskan lebih jauh mengenai peran media massa dalam perkembangan informasi beserta permasalahan yang timbul. Definisi berita, definisi media massa dan jenis-jenisnya, konsep media massa yang ideal dampak dari kehadiran media massa hingga pada solusi dan action plan yang diterapkan dalam menghadapi permasalahan sosial tersebut.
Sebelum membahas lebih jauh tentang peranan media massa melalui berita dalam membentuk karakter publik, ada baiknya kita mengenal etimologi dari media massa dan berita sebagai bagian yang terkait didalamnya.
Definisi berita menurut sebagian para pakar komunikasi antara lain dijabarkan sebagai berikut:
1.    Dean M. Lyle Spencer : Berita adalah suatu kenyataan atau ide yang benar yang dapat menarik perhatian sebagian besar dari pembaca.
2.    Willard C. Bleyer : Berita adalah sesuatu yang termasa ( baru ) yang dipilih oleh wartawan untuk dimuat dalam surat kabar. Karena itu ia dapat menarik atau mempunyai makana bagi pembaca surat kabar, atau karena dapat menarik pembaca - pembaca tersebut.
3.    William S Maulsby : Berita adalah suatu penuturan secara benar dan tidak memihak dari fakta yang mempunyai arti penting dan baru terjadi, yang dapat menarik perhatian pembaca surat kabar yang memuat berita tersebut.
4.    J.B. Wahyudi : Berita adalah laporan tentang peristiwa atau pendapat yang memilki nilai penting, menarik bagi sebagian khalayak, masih baru dan dipublikasikan melalui media massa periodik.
5.    Djafar H Assegaf : Berita adalah laporan tentang fakta atau ide yang termasa ( baru ), yang dipilih oleh staff redaksi suatu harian untuk disiarkan, yang dapat menarik perhatian pembaca. Entah karena luar biasa, entah karena pentingnya, atau akibatnya, entah pula karena ia mencakup segi-segi human interest seperti humor, emosi dan ketegangan.
Dari beberapa definisi berita menurut pakar jurnalistik diatas dapat diperoleh suatu sintesa intisari dari pengertian berita. Unsur-unsur inti berita meliputi laporan, kejadian/peristiwa/pendapat yang menarik dan penting, serta disajikan secepat mungkin (aktual) melalui media massa periodik. 
Sedangkan sintesa pengertian dari media massa adalah suatu jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonim melewati media cetak atau elektronik, sehingga pesan informasi yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat. Pengertian ’’dapat’’ di sini menekankan pada pengertian, bahwa jumlah sebenarnya penerima pesan informasi melalui media massa pada saat tertentu tidaklah esensial. Yang penting ialah pesan itu dapat sampai pada sejumlah besar orang yang secara tempat tersebar atau "The communicator is a social organization capable or reproducing the message and sending it simultaneously to large number of people who are spartially separated"(Tan, 1981 : 73).  
Adapun bentuk media massa, secara garis besar, ada dua jenis, yaitu : media cetak (surat kabar dan majalah, termasuk buku-buku) dan media elektronik (televisi dan radio, termasuk internet).
Dari dua pengertian diatas, semakin jelas peran media dalam kehidupan sosial suatu kelompok.Media bersifat menghubungkan masyarakat dengan persoalan. Pandangan media akan realitas persoalan akan menentukan isi simbolik realitas. Selain itu terdapat enam perspektif dalam melihat peran media dalam kehidupan sosial.
Pertama, melihat media massa sebagai window on event and experience. Media dipandang sebagai jendela yang memungkinkan khalayak melihat apa yang sedang terjadi di luar sana. Atau media merupakan sarana belajar untuk mengetahui berbagai peristiwa.
Kedua, media juga sering dianggap sebagai a mirror of event in society and the world, implying a faithful reflection. Cermin berbagai peristiwa yang ada di masyarakat dan dunia, yang merefleksikan apa adanya. Karenanya para pengelola media sering merasa tidak “bersalah” jika isi media penuh dengan kekerasan, konflik, pornografi dan berbagai keburukan lain, karena memang menurut mereka faktanya demikian, media hanya sebagai refleksi fakta, terlepas dari suka atau tidak suka. Padahal sesungguhnya, angle, arah dan framing dari isi yang dianggap sebagai cermin realitas tersebut diputuskan oleh para profesional media, dan khalayak tidak sepenuhnya bebas untuk mengetahui apa yang mereka inginkan.
Ketiga, memandang media massa sebagai filter, atau gatekeeper yang menyeleksi berbagai hal untuk diberi perhatian atau tidak. Media senantiasa memilih issue, informasi atau bentuk content yang lain berdasar standar para pengelolanya. Di sini khalayak “dipilihkan” oleh media tentang apa-apa yang layak diketahui dan mendapat perhatian .
Keempat, media massa acapkali pula dipandang sebagai penunjuk jalan atau interpreter, yang menerjemahkan dan menunjukkan arah atas berbagai ketidakpastian, atau alternative yang beragam
Kelima, melihat media massa sebagai forum untuk mempresentasikan berbagai informasi dan ide-ide kepada khalayak, sehingga memungkin terjadinya tanggapan dan umpan balik.
Keenam, media massa sebagai interlocutor, yang tidak hanya sekadar tempat berlalu lalangnya informasi, tetapi juga partner komunikasi yang memungkinkan terjadinya komunikasi interaktif (press relation).
Peran media dalam masyarakat diatas nantinya akan membawa dampak dan perubahan yang signifikan bagi kehidupan sosial. Berbagai produk media yang disuguhkan pada pemirsanya memberikan sugesti dan pengaruh yang menyebabkan perubahan sosial.Menurut Karl Erik Rosengren pengaruh dan dampak media dapat dilihat dari skala kecil (individu) dan luas (masyarakat) serta cepat atau lambatnya pengaruh itu menyebar.
Artinya dampak media massa dapat meluas kepada siapapun secara holistik. Dan secara simultan dampak media massa membawa masayarakat menuju suatu perubahan. Tinggal bagaimanakah wujud perubahan itu, apakah positif atau negatif.
Peran media massa dinilai berperan positif bagi masyarakat apabila media dapat menyebarkan dan menanamka nilai-nilai moral sebagai contoh mencintai sesama manusia, menjunjung tinggi moral, menghormati hak-hak orang lain, menyebarkan tradisi saling memaafkan dan mangasihi. Oleh karena itu penyuguhan berita dan siaran di media massa walaupun menghibur harus tetap mendidik untuk membangun perilaku masyarakat yang sehat. 
Media massa juga bisa berperan sebagai sumber rujukan di bidang pendidikan dan penyebaran informasi yang cepat. Dalam hal ini, media dapat meningkatkan tingkat pengetahuan masyarakat.Sekarang ini, media memiliki andil yang penting dalam mengajak masyarakat untuk memerangi kekerasan, dan tindak kriminalitas. 
Media sebagai kekuatan strategis dalam menyebarkan informasi merupakan salah satu otoritas sosial yang berpengaruh dalam membentuk sikap dan norma sosial suatu masyarakat. Media massa bisa menyuguhkan teladan budaya yang bijak untuk mengubah prilaku masyarakat.
Namun terdapat dampak negatif dari penyuguhan berita maupun tayangan oleh media massa. Produk media massa akan membentuk opini dan perspektif publik yang negatif. Sebagai contoh tayangan iklan yang menampilkan produk rokok atau minuman keras yang terbukti berdasarkan riset terbaru mengungkap bahwa iklan semacam itu terbukti mensugesti anak-anak dan remaja untuk mencoba mengkonsumsinya.Sedangkan berita yang masih mencampurkan antara objek faktual dengan opini penulis dimungkinkan dapat menyebarluaskan rasa permusuhan dan berbagai tindakan anarkis.
Dampak negatif lain adalah berubahnya gaya hidup. Pada negara berkembang penyajian berita maupun tontonan asing membuat kebudayaan dan nilai-nilai lokal tergilas oleh modernisasi ala barat yang bersebrangan dengang paradigma budaya indonesia yang lebih bertendensi ketimuran.
Dalam taraf personal, media massa terbukti mengubah gaya hidup dan kecenderungan beraktifitas pemirsanya. Contoh dalam hal ini adalah tayangan atau siaran yang tersaji dalam program media elektornik seperti televisi, radio atau internet. Sejumlah peneliti mengungkapkan terlalu lama menyimak tayangan atau siaran yang disajikan media akan membuat gaya hidup semakin pasif dan malas bergerak. Kurangnya aktivitas fisik akan mempengaruhi kualitas kesehatan tiap-tiap individu.
Untuk menghadapi dampak-dampak negatif diatas diperlukan suatu solusi sekaligus suatu rancangan action plan yang bersifat preventif maupun penindakan. Mengingat posisi negeri pada masa globalisasi, tidak mungkin kita untuk mengelak dari perkembangan dan kemajuan teknologi berikut media massa. Media massa sebagai penggerak opini publik menjadikannya sebagai alat pengonstruksi masyarakat. Contoh konkret penanggulangan opini publik yang negatif telah dijelaskan dalam sosiologi komunikasi yang mengenal opinion leader atau pemuka pendapat. Media massa diharapkan lebih sering menayangkan pendapat dan argumentasi pemuka masyarakat seperti tokoh agama, tokoh kebudayaan, para pakar hingga para pemerhati masalah sosial. Sehingga diharapkan opini publik selalu terjaga dalam rel objektivitas positif.
Selain itu yang lebih penting adalah adanya peraturan pemerintah mengenai undang-undang pers, undang-undang perfilman dan undang-undang penyiaran. Dari regulasi yang ditetapkan itu nantinya diatur mekanisme akan pemberian sanksi tegas terhadap siapapun yang melanggarnya.
Hal lain yang menyokong dua action plan diatas adalah adanya upaya partisipasi masyarakat untuk bersama-sama mencegah dampak buruk dari globalisasi media. Dengan demikian terciptalah kebebasan pers yang dinamis dalam perkembangan informasi dan positif bagi pembentukan karakter masyarakat bangsa serta aktif dalam menjalankan peran pembangunan bangsa.

Sumber :

( No.20 ) 20 TULISAN BAHASA INDONESIA 1

IMPLEMENTASI TEKNOLOGI INFORMASI UNTUK KEUNGGULAN KOMPETITIF DALAM OPERASIONAL PERUSAHAAN PADA ERA GLOBALISASI



Tidak dapat disangkal bahwa salah satu penyebab utama terjadinya era globalisasi yang datangnya lebih cepat dari dugaan semua pihak adalah karena perkembangan pesat teknologi informasi. Implementasi internet, electronic commerce, electronic data interchange, virtual office, telemedicine, intranet, dan lain sebagainya telah menerobos batas-batas fisik antar negara. Penggabungan antara teknologi komputer dengan telekomunikasi telah menghasilkan suatu revolusi di bidang sistem informasi. Data atau informasi yang pada jaman dahulu harus memakan waktu berhari-hari untuk diolah sebelum dikirimkan ke sisi lain di dunia, saat ini dapat dilakukan dalam hitungan detik.
Tidak berlebihan jika salah satu pakar IBM menganalogikannya dengan perkembangan otomotif sebagai berikut: “seandainya dunia otomotif mengalami kemajuan sepesat teknologi informasi, saat ini telah dapat diproduksi sebuah mobil berbahan bakar solar, yang dapat dipacu hingga kecepatan maximum 10,000 km/jam, dengan harga beli hanya sekitar 1 dolar Amerika !”. Secara mikro, ada hal cukup menarik untuk dipelajari, yaitu bagaimana evolusi perkembangan teknologi informasi yang ada secara signifikan mempengaruhi persaingan antara perusahaan-perusahaan di dunia, khususnya yang bergerak di bidang jasa.Secara garis besar, ada empat periode atau era perkembangan sistem informasi, yang dimulai dari pertama kali diketemukannya komputer hingga saat ini.Keempat era tersebut (Cash et.al., 1992) terjadi tidak hanya karena dipicu oleh perkembangan teknologi komputer yang sedemikian pesat, namun didukung pula oleh teori-teori baru mengenai manajemen perusahaan modern.Ahli-ahli manajemen dan organisasi seperti Peter Drucker, Michael Hammer, Porter, sangat mewarnai pandangan manajemen terhadap teknologi informasi di era modern.Oleh karena itu dapat dimengerti, bahwa masih banyak perusahaan terutama di negara berkembang (dunia ketiga), yang masih sulit mengadaptasikan teori-teori baru mengenai manajemen, organisasi, maupun teknologi informasi karena masih melekatnya faktor-faktor budaya lokal atau setempat yang mempengaruhi behavior sumber daya manusianya.Sehingga tidaklah heran jika masih sering ditemui perusahaan dengan peralatan komputer yang tercanggih, namun masih dipergunakan sebagai alat-alat administratif yang notabene merupakan era penggunaan komputer pertama di dunia pada awal tahun 1960-an.
Belum banyak buku yang secara eksplisit memasukkan era terakhir ini ke dalam sejarah evolusi teknologi informasi.Fenomena yang terlihat adalah bahwa sejak pertengahan tahun 1980-an, perkembangan dibidang teknologi informasi (komputer dan telekomunikasi) sedemikian pesatnya, sehingga kalau digambarkan secara grafis, kemajuan yang terjadi terlihat secara eksponensial. Ketika sebuah seminar internasional mengenai internet diselenggarakan di San Fransisco pada tahun 1996, para praktisi teknologi informasi yang dahulu bekerja sama dalam penelitian untuk memperkenalkan internet ke dunia industri pun secara jujur mengaku bahwa mereka tidak pernah menduga perkembangan internet akan menjadi seperti ini. Ibaratnya mereka melihat bahwa yang ditanam adalah benih pohon ajaib, yang tiba-tiba membelah diri menjadi pohon raksasa yang tinggi menjulang. Sulit untuk ditemukan teori yang dapat menjelaskan semua fenomena yang terjadi sejak awal tahun 1990-an ini, namun fakta yang terjadi dapat disimpulkan sebagai berikut:
Tidak ada yang dapat menahan lajunya perkembangan teknologi informasi.Keberadaannya telah menghilangkan garis-garis batas antar negara dalam hal flow of information. Tidak ada negara yang mampu untuk mencegah mengalirnya informasi dari atau ke luar negara lain, karena batasan antara negara tidak dikenal dalam virtual world of computer. Penerapan teknologi seperti LAN, WAN, GlobalNet, Intranet, Internet, Ekstranet, semakin hari semakin merata dan membudaya di masyarakat.Terbukti sangat sulit untuk menentukan perangkat hukum yang sesuai dan terbukti efektif untuk menangkal segala hal yang berhubungan dengan penciptaan dan aliran informasi.Perusahaan-perusahaan pun sudah tidak terikat pada batasan fisik lagi.Melalui virtual world of computer, seseorang dapat mencari pelanggan di seluruh lapisan masyarakat dunia yang terhubung dengan jaringan internet.Sulit untuk dihitung besarnya uang atau investasi yang mengalir bebas melalui jaringan internet.Transaksi-transaksi perdagangan dapat dengan mudah dilakukan di cyberspace melalui electronic transaction dengan mempergunakan electronic money.
Tidak jarang perusahaan yang akhirnya harus mendefinisikan kembali visi dan misi bisnisnya, terutama yang bergelut di bidang pemberian jasa. Kemudahan-kemudahan yang ditawarkan perangkat canggih teknologi informasi telah merubah mindset manajemen perusahaan sehingga tidak jarang terjadi perusahaan yang banting stir menggeluti bidang lain. Bagi negara dunia ketiga atau yang sedang berkembang, dilema mengenai pemanfaatan teknologi informasi amat terasa. Di suatu sisi banyak perusahaan yang belum siap karena struktur budaya atau SDM-nya, sementara di pihak lain investasi besar harus dikeluarkan untuk membeli perangkat teknologi informasi. Tidak memiliki teknologi informasi, berarti tidak dapat bersaing dengan perusahaan multi nasional lainnya, alias harus gulung tikar.
Hal terakhir yang paling memusingkan kepala manajemen adalah kenyataan bahwa lingkungan bisnis yang ada pada saat ini sedemikian seringnya berubah dan dinamis. Perubahan yang terjadi tidak hanya sebagai dampak kompetisi yang sedemikian ketat, namun karena adanya faktor-faktor external lain seperti politik (demokrasi), ekonomi (krisis), sosial budaya (reformasi), yang secara tidak langsung menghasilkan kebijakan-kebijakan dan peraturan-peraturan baru yang harus ditaati perusahaan. Secara operasional, tentu saja fenomena ini sangat menyulitkan para praktisi teknologi informasi dalam menyusun sistemnya. Tidak jarang di tengah-tengah konstruksi sistem informasi, terjadi perubahan kebutuhan sehingga harus diadakan analisa ulang terhadap sistem yang akan dibangun. Dengan mencermati keadaan ini, jelas terlihat kebutuhan baru akan teknologi informasi yang cocok untuk perusahaan, yaitu teknologi yang mampu adaptif terhadap perubahan. Para praktisi negara maju menjawab tantangan ini dengan menghasilkan produk-produk aplikasi yang berbasis objek, seperti OOP (Object Oriented Programming), OODBMS (Object Oriented Database Management System), Object Technology, Distributed Object, dan lain sebagainya.

Keunggulan Kompetitif Dalam Konsep E-Business
Dalam mengimplementasikan konsep e-business, terlihat jelas bahwa meraih keunggulan kompetitif (competitive advantage) jauh lebih mudah dibandingkan mempertahankannya. Secara teoritis hal tersebut dapat dijelaskan karena adanya karakteristik sebagai berikut:
·        Pada level operasional, yang terjadi dalam e-business adalah restrukturisasi dan redistribusi dari bit-bit digital (digital management), sehingga mudah sekali bagi perusahaan untuk meniru model bisnis dari perusahaan lain yang telah sukses;
·        Berbeda dengan bisnis konvensional dimana biasanya sebuah kantor beroperasi 8 jam sehari, di dalam e-business (internet), perusahaan harus mampu melayani pelanggan selama 7 hari seminggu dan 24 jam sehari, karena jika tidak maka dengan mudah kompetitor akan mudah menyaingi perusahaan terkait;
·        Berjuta-juta individu (pelanggan) dapat berinteraksi dengan berjuta-juta perusahaan yang terkoneksi di internet, sehingga sangat mudah bagi mereka untuk pindah-pindah perusahaan dengan biaya yang sangat murah (rendahnya switching cost);
·        Fenomena jejaring (internetworking) memaksa perusahaan untuk bekerja sama dengan berbagai mitra bisnis untuk dapat menawarkan produk atau jasa secara kompetitif, sehingga kontrol kualitas, harga, dan kecepatan penciptaan sebuah produk atau jasa kerap sangat ditentukan oleh faktor-faktor luar yang tidak berada di dalam kontrol perusahaan; dan
·        Mekanisme perdagangan terbuka dan pasar bebas (serta teori perfect competition) secara tidak langsung telah terjadi di dunia internet, sehingga seluruh dampak atau dalil-dalil sehubungan dengan kondisi market semacam itu berlaku terjadi di dunia maya.

Melihat kenyataan di atas, perusahaan harus memiliki kriteria-kriteria (critical success factors) dan ukuran-ukuran (performance indicators) yang dapat dijadikan sebagai barometer sukses tidaknya perusahaan dalam memiliki dan mempertahankan keunggulun kompetitif tertentu. Beberapa teori keunggulan kompetitif di dunia maya menganjurkan agar paling tidak 7 (tujuh) aspek harus menjadi perhatian dari sebuah perusahaan, yaitu masing-masing:
1.    Customer Service
2.    Price
3.    Quality
4.    Fulfillment Time
5.    Agility
6.    Time to Market
7.    Market Reach

Strategic Uses of Information Technology
Sebelum Teknologi Informasi diterapkan pihak pengambil keputusan harus yakin dan dapat meyakinkan semua pihak terutama para pustakawan bahwa Teknologi Informasi ini akan membawa PNRI lebih baik dan menguntungkan semua stakeholder-nya. Untuk mendapatkan keyakinan tersebut maka harus disusun strategi jitu untuk pengimplementasian Teknologi Informasi yang diharapkan bisa menjamin manfaat TI yang diperoleh akan sebanding dengan investasi yang ditanam, dan mengatasi permasalahan pertumbuhan teknologi yang sangat cepat. Di atas itu semua strategi Teknologi Informasi ini tentunya harus sejalan dengan strategi organisasi PNRI.Beberapa alasan kenapa perencanaan strategis harus dibuat, yang pertama adalah karena sumber daya yang dimiliki organisasi sangat terbatas, sehingga harus digunakan seoptimal mungkin. Kedua, untuk meningkatkan daya saing atau kinerja organisasi, karena para kompetitor memiliki sumber daya teknologi yang sama dan pembedanya nanti adalah siapa yang memiliki eksekusi terbaik. Alasan ketiga adalah untuk memastikan bahwa aset TI dapat dimanfaatkan secara langsung maupun tidak langsung meningkatkan profitabilitas organisasi, baik berupa peningkatan pendapatan (revenue) maupun pengurangan biaya-biaya (costs). Keempat adalah untuk mencegah terjadinya kelebihan investasi (over investment) atau kekurangan investasi (under investment) di bidang TI.Dan alasan terakhir adalah untuk menjamin bahwa TI yang direncanakan dan dikembangkan benar-benar menjawab kebutuhan bisnis organisasi.Tidak semua produk TI tergolong baik, dari sekian banyak produk yang ditawarkan, lebih banyak yang gagal daripada yang berhasil. Sebab itu pada tahap persiapan dan perencanaan, akan dianalisa dan diusulkan beberapa skenario atau pilihan (options), dimana setiap skenario memiliki variabelnya masing-masing seperti biaya (costs), manfaat (benefits), resiko (risks), dampak (impacts), tingkat kesulitan (complexity), hambatan (constraints), dan hal-hal terkait lainnya. Para pengambil keputusan juga harus mempelajari arah dan perkembangan TI secara global agar tidak terjadi kesalahan dalam pemilihan teknologi yang diterapkan dan dikembangkan di organisasi.Maka harus dilakukan pemilahan terhadap teknologi mana saja yang masih dalam tahap percobaan atau perkenalan (infancy/emerging), perkembangan (growth), stabil (mature), dan mulai ditinggalkan (facing out).Tentunya dalam pembuatan sistem jangka panjang dan perencanaan harus diperhatikan agar jangan sampai menggunakan metode atau teknologi yang sudah mengarah ke teknologi basi (facing out). Salah satu metode yang bagus adalah dengan melakukan penelitian terhadap penerapan Teknologi Informasi di perpustakaan-perpustakaan nasional di negara-negara lain, sehingga menjadi acuan bagi PNRI. Namun harus diingat bahwa suatu sistem yang berhasil di tempat lain belum tentu sesuai dan berhasil di tempat kita, karena tentunya ada beberapa kondisi dan karakteristik yang berbeda sehingga membutuhkan penanganan yang berbeda pula. Salah satu dari unsur Teknologi Informasi tersebut adalah brainware, yang merupakan unsur paling kritikal melebihi unsur lainnya (software dan hardware).Jika diibaratkan hardware dan software adalah senjatanya, maka penentu utamanya tetap adalah man behind the gun yaitu dalam hal ini brainware. Manusia (brainware) yang akan mengimplementasikan sistem informasi yang dibangun, mengembangkan TI sejalan dengan perkembangan organisasi di masa mendatang, serta penentu srategi kebijakan TI itu sendiri. Oleh karena itu untuk tahap awal perlunya kita mengarahkan perhatian pada pembenahan faktor brainware dalam memulai penerapan TI di PNRI, sambil secara paralel melakukan persiapan dan perancangan sistem yang matang.Kemudian sektor SDM pun harus didukung, dan digabungkan dengan Teknologi informasi.

Membangun Customer Focused Bisnis
Customer Focused Bisnis sangat diperlukan dalam membangun organisasi bisnis baru, sehingga para customer akan focus pada satu titik. Pertama pemasaran dan penjualan.Seringkali usaha baru bangkrut karena divisi pemasaran dan penjualannya loyo.Banyak yang merasa mampu membuat solusi multimedia dan informatika membuat usaha baru namun setahun kemudian tutup karena tidak dapat proyek.Tugas divisi ini adalah melakukan riset pasar, promosi, mencari prospek klien, melakukan presentasi sampai dapat menghasilkan proyek untuk perusahaan.Kedua produksi. Saya rasa Anda sudah paham proses produksi di bidang ini sehingga dapat membuat struktur organisasi yang tepat. Meski demikian, saya menyarankan agar setiap proyek dikelola oleh Manajer Proyek yang bertanggungjawab terhadap pelaksanaan proyek. Manajer Proyek ini sifatnya temporer: ada ketika ada pekerjaan, sehingga tidak perlu ada di struktur organisasi. Namun dalam pekerjaannya Manajer Proyek membawahi seluruh tim produksi seperti desainer dan programmer sekaligus menjadi penghubung ke klien. Ketiga Administrasi dan Keuangan.Divisi ini bertanggung jawab terhadap masalah legal, administrasi, pembuatan invoice, penagihan, pembayaran dan tetek bengek keuangan termasuk mengatur cash flow dan membayar gaji karyawan.
Ketiga divisi itu cukup dipegang oleh masing-masing satu orang.Direksi saya kira cukup satu saja.Demikian pula komisaris.
Perusahaan baru sebaiknya cukup mengkonsentrasikan pada tiga fungsi dasar tersebut.Bersamaan dengan pertumbuhan perusahaan, jika dirasa perlu melakulan reorganisasi, lakukan saja. Ingat: sa;ah satu daya hidup perusahaan kecil ada pada fleksibilitas organisasinya. Oleh karena itu, manfaatkan daya hidup ini sebaik mungkin.

Value Chain & Strategic Informastion System
Pada poin ini, semuanya tidak beda jauh dengan Strategic Uses of Information Technology. Hanya bagian informasinya lebih di tekan agar pemasarannya jadi lebih baik.

Re-engineering Bussiness Process
Perlu dilakukan penyegaran dalam bisnis agar semuanya tidak monoton dan terkesan asal-asalan, mulai dari sistem organisasi sampai ke aspek produksi harus sering diperbaiki agar lebih baik mutunya.

Menciptakan Virtual Company
Yaitu menciptakan produk atau softwere sendiri untuk mendukung suatu perusahaan.

Membangun Knowledge Creating Company
Membangun Knowledge Creating Company dibutuhkan poin-poin penting yaitu :
1.    Important knowledge in Company :
·        Cara menghadapi persaingan global.
·        Cara menjaga kepuasan pelanggan.
·        Cara mengantisipasi dinamika persaingannya secara tepat melalui pengembangan virtual Lego Factory.
·        Cara menghadapi arena persaiangan dengan film-film yang sedang beredar dengan kualitas box-office, misalnya Star Wars dan Harry Potter.
·        Melaksanakan program restrukturisasi yang terdiri dari downsizing dan downscoping.
2.    Cross cultural interfaces & Knowledge domain :
·        Lego Group mengirimkan produknya kepada retail-retail kecil yang terdapat di dalam database Lego Group sejak tahun 1950.
·        Penjualan saham Legoland (Taman Bermain Lego) kepada Blackstone senilai US$450 juta dan penglepasan aset non-produktif di AS, Korea Selatan, dan Australia merupakan bentuk divestasi Lego dalam kaitannya dengan program turn around. Divestasi ini menghasilkan efektivitas dan efisiensi perusahaan yang secara langsung meningkatkan kinerja Lego.

Sumber :http://nyomandarma.blogspot.com/2012/01/implementasi-teknologi-informasi-untuk.html